Cerpen Sedih - Setelah Aku Jatuh Terpuruk

Cerpen Sedih - Setelah Aku Jatuh Terpuruk

Karya: Arfi Nafa

Alfaytaa Izzah, begitulah namaku. Mereka sering memanggilku Zaa. Dia bukanlah seorang yang pandai, tapi Zaa punya mimpi. Suatu ketika impian itu harus terwujud. Begitulah kira-kira sedikit tentang sosok Zaa.

"Zaa itu kalau punya kemauan ya harus terwujud, apapun itu!"

"Zaa jika punya impian, maka ia akan memperjuangkannya,"

"Zaa itu orangnya lempeng, jika sudah menjadi prioritas, siapapun tidak bisa menggoyahkan prinsip hidupnya!"

"Zaa pernah bilang, kuliah menjadi prioritas baginya, pernah sekali ada seseorang yang memintanya meninggalkan perkuliahan dan yang terjadi adalah Zaa memutuskan untuk meninggalkan pertemanannya dengan seorang itu, horor bukan?

Itulah komentar dari beberapa orang yang mengenal Zaa. Ia bisa menjadi sosok yang begitu baik, namun ketika hatinya sudah terluka maka sikap baiknya akan hilang tak terlihat sama sekali. Dengan siapapun itu, Zaa bisa tunduk dan meminta maaf jika memang itu kesalahannya, namun jika tidak? Ah sudahlah ....

Prinsip hidupnya, Bagaimana aku tergantung sikapmu padaku.

Ah ... begitu sombong kamu Zaa, tidak semua yang kamu inginkan menjadi kenyataan Zaa. Hidupmu milik Tuhan. Kamu bisa berencana tapi tetap hanya Tuhan yang menentukan.

Za pernah punya mimpi menjadi seorang penulis. Tanpa punya laptop, tanpa punya pengetahuan tentang dunia kepenulisan, ia tetap semangat belajar. Berkawan dengan penulis-penulis di sosial media yang sudah menerbitkan buku. Menjadi siswa terdekat dengan guru-guru Bahasa Indonesia di sekolahnya, lagi-lagi bukan karena pandai namun sebuah usaha menjadikan mimpinya menjadi nyata.

Dan suatu ketika, ia menyelesaikan sebuah tulisan yang di cetak menjadi sebuah buku. Lewat tangan-tangan baik teman-teman dunia maya yang Zaa kenal.
Usaha memang tidak menghianati hasil.

Zaa pernah mempunyai cita-cita untuk masuk salah satu Universitas. Bukan Universitas Negeri, tapi seolah ia sudah memiliki rasa ingin menjadi bagian dari Universitas tersebut, bahkan sejak ia masih duduk di bangku SMP. Kala itu Zaa mendapat undangan seminar mewakili OSIS sekolahnya di Universitas tersebut.

Masih terlintas jelas di bayangan, di Kampus 1 gedung D1 ruang kuliah 05. Saat Zaa berusia 15-tahunan ia berkata pada seorang guru di sekolahnya.

"Nuansanya menyejukan ya Pak, aku pengen kuliah di sini!"

Entahlah, kalimat itu terucap begitu saja saat Zaa berada di depan ruang seminar dengan lantunan asma'ul husna yang terdengar jelas dari masjid kampus.

"Insyaallah Nduk, nanti setelah lulus SMA Zaa bisa kuliah disini, asal Zaa sekolahnya serius!"

Begitu jawaban bijak seorang guru SMP Zaa ketika itu.

Waktu pun berlalu, Zaa pun tak ingat dengan ucapannya pada seorang guru di SMP-nya. Terlebih, saat ia duduk di kelas 12 SMA. Guru-guru selalu mengarahkan ke Universitas Negeri sebab Zaa kini sekolah di SMA negeri.

Universitas A,B,C,D ...
mereka, teman-teman Zaa menyebutkan nama-nama Universitas Negeri maupun Swasta yang terkenal.

"Zaa, pengen kuliah dimana?" tanya seorang teman.

Ia terdiam, ingatannya kembali pada kejadian saat ia berusia 15 tahunan lalu.

"Universitas itu," jawabnya menyebutkan nama sebuah kampus yang pernah ia datangi kala itu.

"Ih mana itu? Nggak terkenal!"

"Iya Zaa, kok nggak nyoba yang terkenal dulu?"

"Kalian mau mejeng apa cari ilmu?" jawab Zaa kemudian meninggalkan gerombolan siswa ABG labil yang suka hura-hura.

Sedikit cerita, dunia Zaa tidak sejalan dengan hiruk pikuk masa putih abu-abu di sekolahnya. Ia memimpikan sekolah yang kental akan nuansa pesantren yang islami seperti ketika ia di SMP dulu, dan ia tak menemukannya di masa putih abu-abu. Sebab itulah ia teringat sebuah Universitas yang menurut mereka tidak terkenal. Kesan pertama, ia menemukan kesejukan disana. Begitulah ia sangat berharap menjadi salah satu mahasiswa di kampus tersebut.

"Kesuksesan bukan di ciptakan oleh orang kaya, sukses bukan karena sekolah di tempat terkenal atau mahal. Ilmu yang manfaat adalah ketika kalian bisa mengamalkan sedikit ilmu yang telah kalian dapat dari beliau para pengajar. Berkah ilmu dari beliau para guru, ustad-ustadzahlah yang insyaallah memudahkan jalan kalian meraih mimpi kalian. Takdimlah pada beliau, sebab adab memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada ilmu."

Kalimat-kalimat menyejukan itu masih terngiang setelah beberapa tahun terucap dari beliau, bapak guru saat Zaa duduk di bangku SMP. Sebab itulah ia tak pernah risau akan celotehan orang-orang sekitarnya yang menempatkan pola pemikiran keduniawian.

Memang, lembaga pendidikan yang bonavit itu menjanjikan. Namun semua kembali pada keyakinan masing-masing. Zaa, tetap pada keyakinannya, menuntut ilmu di lingkungan yang ia rindukan setelah tiga tahun berlalu.

Perdebatan panjang terjadi, Zaa tidak di injinkan untuk kuliah seperti impiannya. Universitas pilihannya tidak terlalu menjadi persoalan, jurusannya yang menjadikan pertentangan di sana sini.

"Mau jadi apa Zaa?"

"Hah? Mau jadi uztadzah Zaa?"

Begitulah pola pikir mereka yang ada di sekitar Zaa, mendengar kata Pendidikan Agama mereka langsung syock. Lingkungannya tidak mendukung. Zaa yang besar di lingkungan masyarakat perkotaan, menjadikan tabu jika mempelajari ilmu agama. Ah miris, bahkan satu-satunya Madradah Ibtidaiyah harus tutup karena tidak ada peminatnya.

Semangat Zaa tidak menurun. Zaa di tentang, namun prinsip hidupnya kuat. Jika ia mempunyai mimpi maka ia harus terwujud, bagaimanapun caranya.

Saat teman-teman SMA-nya sibuk bersua foto, menunjukan dirinya sebagai mahasiswa baru di berbagai Universitas Negeri maupun Swasta terkenal, Zaa justru sedang berjuang mewujudkan cita-citanya yang tertunda.

Ia memutuskan bekerja sebagai karyawan di salah satu pabrik, memanfaatkan ilmu yang ia dapatkan ketika duduk di bangku SMA. Ia bekerja tepat di bagian yang ia pelajari ketika SMA. Memang tak ada hubungannya dengan jurusan Pendidikan Agama yang akan ia ambil di Universitas itu, sebab itulah ia tak mendapatkan ijin. Yang pasti ilmu di SMA itu bermanfaat sekarang, di dunia kerja yang ia geluti saat ini.

Satu tahun berlalu, mimpi itu menjadi nyata. Cita-citanya terwujud. Ia menjadi salah satu mahasiswa di Universitas tersebut dengan caranya sendiri. Restu memang belum ia kantongi, namun ia sudah melakukan pendafraran dan membayar sejumlah biaya yang seharusnya di lunasi saat itu juga tanpa ada yang tau, kecuali satu sahabat terbaiknya sejak SMP yang mengantarnya mengurus pendaftaran, bahkan ia juga yang meminjamkan sejumlah uang sebab pendaftaran gelombang pertama di tutup satu hari sebelum Zaa menerima gaji.

Bukan serta merta Zaa melawan dengan tidak meminta restu orang tuanya. Maksudnya memang baik untuk meneruskan ilmu yang di dapatnya ketika di bangku sekolah, namun Zaa haus dengan ilmu agama. Ia ingin belajar tentang semua ilmu yang di dapatnya ketika SMP yang sudah tidak lagi ia dapatkan di bangku SMA.

"Berjuanglah Nduk, jemputlah ilmu itu. Hidayah dari Allah sudah menghampirimu," kata Beliau, seorang ustad di pondok pesantren yang masih satu yayasan dengan SMP Zaa.

Zaa memang bukan seorang santriwati, namun tiga tahun ketika SMP berada di lingkungan pondok pesantren membuat kehidupannya berubah total. Bahkan lingkungannya menganggap Zaa berbeda, namun Zaa selalu masa bodoh dengan perkataan mereka yang tidak sejalan dengan Zaa sekarang.

Kehidupan baru seorang Alfaytaa Izzah berubah, seiring berjalannya waktu restu sudah di dapatnya. Ia menikmati masa-masa seorang mahasiswa yang melakukan aktivitas perkuliahan dan seorang karyawan secara bersamaan.

Za begitu menikmati saat-saat menjadi mahasiswa di Universitas yang ia harapkan. Semua bisa terwujud, jika kita bersungguh-sungguh memperjuangkannya. Allah maha kuasa, Allah begitu baik mengabulkan semua pinta Zaa.

Hingga suatu ketika ia terlena oleh harapannya. Zaa kini sudah memasuki masa dimana ia jatuh cinta. Cintanya terbalas, restu orang tua pernah ia dapatkan. Tapi Allah maha membolak-balikan rasa, sepertinya Allah tak merestui hubungan Zaa hingga lewat kedua orang tua si pemuda sederhana dan bersahaja itu Allah cabut restunya. Singkat cerita ia pergi bersama yang telah di takdirkan oleh Allah.

Zaa terluka, sangat parah. Ia terpukul bahkan benar-benar jatuh. Hidupnya terasa tak berarti lagi. Prinsip hidupnya masih melekat apapun yang ia harapkan, bagaimana caranya bisa terwujud. Hal itulah yang menjadikan Zaa sulit mengihklaskan. Nasehat dari siapapun hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ia meratapi kepergiannya bersama orang lain.

Setelah sakit itu tak kunjung sembuh, Allah temukan obatnya lewat nasehat seorang dosen yang sebenarnya sudah ia kenal sejak ia menjadi mahasiswa baru.

"Nak, Allah cemburu padamu. Kamu begitu mencintai mahklukNYA hingga Allah timpakan kecewa, agar kamu kembali mencintai Allah melebihi cintamu pada hambaNYA, takdir tak pernah salah,"

Begitulah pertolongan Allah yang tak pernah di sangka-sangka datangnya. Saat Zaa sudah berada di titik terlemahnya. Saat ia tak tau lagi harus bagaimana caranya melupakan pemuda yang pernah singgah di hatinya, Allah sembuhkan luka itu hanya dengan ucapan-ucapan beliau yang selalu menyejukan hati seorang Zaa.

Zaa tersenyum kembali. Seiring berjalannya waktu Zaa menerima semua takdir itu, bahkan Zaa kini sudah berdamai dengan hatinya. Sesekali ia berjumpa dengan sang pemuda. Ia bercanda tawa seolah tak ada beban dalam hidupnya.

Za bangkit. Ia semangat kuliah. Ia belajar sungguh-sungguh. Targetnya lulus tepat waktu. Zaa yang lempeng, kata sahabat terbaiknya selalu menjadikan prioritas impiannya dalam hidup.

Ia tak pernah main-main dengan harapannya. Satu target sudah terlewat, ia tertinggal satu kali wisuda. Namun ia bangkit, ia mengejar meski saat itu dalam keterbatasan setelah Zaa tertimpa musibah. Zaa kecelakaan yang membuat kakinya susah berjalan. Bagaimanapun caranya ia lakukan. Menunggu berhari-hari untuk bimbingan. Datang sejak pagi hingga pulang sore hari meski tanpa hasil sebab beliau yang di tunggu tidak hadir. Bahkan ia sampai juga ke kediaman beliau dengan kaki yang tak bisa jalan secara normal setelah beliau memintanya untuk datang sebab suatu hal tak bisa datang ke kampus.

Motto hidupnya masih sama, mimpinya harus terwujud, bagaimanapun caranya bahkan Zaa terlena. Ia lupa bahwa ada campur tangan Tuhan dalam hidupnya.

Ia kembali terpuruk. Saat mimpinya tak terwujud sebab suatu hal. Skripsinya tertunda, sebab kesalahan yang tidak ia perbuat. Menurut Zaa.

Lagi-lagi ia terlena dengan takdir Allah, hingga ia selalu menyalahkan. Bahkan Universitas yang ia banggakan sejak usianya belasan tahun lalu, tak mampu ia datangi. Jangankan datang, mendengar namanya pun ia terluka. Air matanya mudah sekali menetes.

"Zaa, semua itu takdir Allah. Manusia bisa berusaha tapi Allah yang menetukan. Jika Zaa sudah berusaha namun hasilnya tidak sesuai, mungkin Allah ingin Zaa bersabar. Innallaha Ma'as Shobirin. Allah bersama orang-orang yang sabar. Berdamailah dengan keadaan, Zaa! Begitulah cara untuk menyembuhkan luka hatimu. Lihat, apa yang saat ini kamu dapatkan bahkan saat sebagian orang yang sudah lulus mendahuluimu memperjuangkan apa yang kamu dapatkan meski tanpa syarat yang seharusnya,"

"Hidup bukan serta merta harapanmu, ingat! Selalu ada campur tangan Allah dalam hidupmu. Kamu bukan milik orang tuamu. Bukan milik laki-laki yang nanti menikahimu, mereka hanya mendapat amanah. Kamu adalah milik Allah. Bersyukurlah atas apa yang telah ditakdirkan Allah dalam hidupmu."

Lagi-lagi Zaa tersadar oleh kalimat-kalimat sejuk darinya. Zaa sadar, motto hidupnya salah. Karenanya Zaa selalu berambisi. Beruntunglah Allah selalu menitipkan pertolongan lewat orang-orang baik dalam hidupnya.

Jalani, Nikmati, Syukuri.
Allah selalu punya maksud di balik sebuah impian yang tertunda bahkan tidak di wujudkan olehNYA.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel