Cerpen Sedih dan Remaja - Mungkin, Rasaku Dan Rasamu Yang Terpendam Sama

Cerpen Sedih dan Remaja - Mungkin, Rasaku Dan Rasamu Yang Terpendam Sama

Karya: Arfi Nafa

Siang pun berganti, azan Ashar berkumandang pertanda sudah tiba masanya sore menjelang. Hati Choirunnisa masih berdebar, air matanya tak henti menetes mengingat pinta laki-laki sederhana dan bersahaja kebanggaannya itu untuk menghadiri acara rutinan remaja malam nanti.
Ah, hatinya menolak pertemuan itu tapi raganya ingin berjumpa. Ada kerinduan untuk kembali mendengar suara merdu laki-laki itu melantunkan sholawat.
Meski kini ia sudah menikah, meski tak seharusnya ia masih mengikuti kegiatan remaja namun suara merdunya memang masih selalu dirindukan oleh semua pendengarnya. Ketua kegiatan sendiri yang memintanya untuk tetap bergabung memimpin kegiatan "sholawat rutinan" yang sudah lama terbentuk, meski kini statusnya bukan lagi remaja.
Tongkat estafet kepengurusan memang sudah berganti, namun ia selalu menempati urutan pertama dalam susunan kepengurusan baru sebagai pemimpin acara. Banyak juga yang memiliki suara merdu selain dirinya namun acara terasa berbeda jika tidak mendengar suara Mas Irwan, begitu kira-kira percakapan di grup remaja yang masih sering Ica tengok. Ica tak pernah ikut berkomentar, ia cukup menyimak saja sebab ia sadar jika sudah lama meninggalkan organisasi itu.
Kini Ica kembali membuka grup untuk mencari undangan sholawat rutinan malam nanti. Biasanya pengurus mengirim undangan dimana tempat acara itu akan dilaksanakan di grup sebagai pemberitahuan.
[Sakina, main yuk]
Ica mencoba mengirim pesan pada sahabatnya, meski ia tau malam nanti sahabatnya pasti menghadiri acara sholawat rutinan itu.
[Main kemana Ca sudah sore begini?]
[Kemana aja, kalo nggak sibuk dan nggak ada acara sih]
[Ya sibuk sih enggak, cuma nanti malem kan ada acara sholawat di rumah Ima, nggak enak lah kalo nggal berangkat. Depan rumah sih]
[Oke fine, lain waktu aja. Salam buat Mbak Ima ya]
Ah, Ica memang nggak jelas. Sudah tau ada acara mengapa ia malah meminta Sakina untuk pergi yang entah kemana?
Tentang ajakan Irwan untuk menghadiri acara malam ini, sudah dipastikan Ica tidak akan menghadirinya.
Ia tidak akan menahan sesak dihatinya sebab pertemuan dengan laki-laki yang masih selalu dihatinya.
Apakah aku pecundang?
Sudahlah, itu lebih baik daripada melukai hatinya. Fikir Ica begitu.
Meski pada kenyataannya, itu tidak lebih baik. Hatinya tetap terluka, air matanya tetap menetes meski ia belum bertemu laki-laki itu secara langsung.
Jam dinding menunjuk pukul 19.00. Ica membuka ponselnya, menggeser-geser sebentar menu di ponselnya kemudian memencet tombol "matikan daya".
Ica mematikan ponsel agar menenangkan hatinya. Pasti grup akan ramai dengan segala rutinitas serta celotehan teman-teman tentang situasi dan kondisi terkini di lokasi acara. Begitulah organisasi kami, para remaja yang tak lepas dari foto selfi di setiap acara sebagai bagian yang tak kalah ramai untuk bahan bercandaan di grup.
Pukul 23.30, Ica kembali mengaktifkan ponselnya setelah ia mencoba untuk memejamkan mata namun tak juga terlelap dalam gelapnya malam.
Semua gara-gara Irwan yang kembali hadir dalam hidupnya secara tiba-tiba.
Seperti dugaan Ica, setelah ponselnya diaktifkan. Dering tanda pesan masuk tak berhenti bergema. Dilihatnya banyak pesan grup juga pesan pribadi dari beberapa teman kuliahnya. Usai membalas satu persatu kini masih tersisa dua pesan yang belum dibuka selain dari grup yang memang tak selera untuk dilihatnya.
Pesan tersebut dari Sakina dan nomer tanpa nama.
Angka 6 berwarna hijau di akun whatsapp dengan nomer tanpa nama yang dipastikan itu Irwan menjadi tanda jika lelaki itu mengirim 6 pesan untuk Ica yang entah apa isinya.
Sesaat ia hanya menatap layar ponselnya. Gambar personil grup hadroh yang dijadikan poto profil di akunnya tiba-tiba berubah menjadi foto balita sedang tersenyum.
Ica memencet foto tersebut tanpa membuka pesannya.
Nampak senyuman balita yang terlihat sangat menggemaskan itu.
Senyummu Nak, mirip sekali dengan senyuman ayahmu. Senyuman yang selalu terbayang dalam setiap malamku, senyum indah yang memikat hatiku sejak kulihat pertama kali beberapa tahun yang lalu.
Balita mungil itu, seperti fotocopy dari ayahnya. Matanya, senyumnya begitu sama hampir tak bisa Ica membedakannya.
Ah, Mas Irwan ...
Pergilah dari bayang-bayang hatiku, mataku sembab sejak siang tadi tak hentinya meneteskan air mata pasca kehadiranmu.
Sejenak Ica mulai berdamai dengan hatinya, ia mengabaikan pesan Irwan. Bahkan mengarsipkan pesan tersebut agar tak nampak di layar ponselnya saat Ica membuka akun whatsapp.
[Ca, sudah tidur?]
Begitu pesan yang 30 menit lalu dikirim oleh Sakina. Nampak akun sahabatnya itu masih online, Ica segera membalas.
[Belum Na, ada apa?]
[Maaf, jika menyinggung perasaanmu. Aku dapat amanah dari Mas Irwan tadi suruh nanyain kenapa kamu nggak datang diacara rutinan. Bukannya memang biasanya tidak datang? Atau kamu sempat chattingan sama Mas Irwan?]
Ah, Sakina memang selalu begitu, menebak sebelum Ica sempat bercerita.
[Iya Na. Siang tadi Mas Irwan tiba-tiba ngechat, dia minta aku buat datang malam ini tapi kamu tau kan itu hal bodoh yang tidak akan pernah kulakukan]
[Pantas saja kamu tadi minta aku menemanimu, maaf aku tak sepeka itu]
[No problem. I'am Fine]
[Iya Ca, sembuhkan dulu hatimu. Jangan lukai perasaanmu sendiri dengan pertemuan jika hatimu belum siap. Atau aku yang harus bicara dengan Mas Irwan untuk tidak mengganggumu lagi dengan alasan yang tidak akan dia tau sebab sebenarnya?]
[Tak perlu Na. Aku takut dia tersinggung, aku nggak mau melukai hatinya dengan kekecewaan]
[Apa kabar hatimu yang terluka karena dia, impas kan]
[Sudahlah, jangan jadi pendendam. Ini bukan perkara siapa yang salah disalahkan. Hanya perkara takdir yang tak seindah yang diimpikan. Tidurlah sahabatku, mimpi indah ya]
Ica mengakhiri percakapan di akun whatsapp dengan sahabatnya.
Malam ini menjadi malam terpanjang bagi Ica setelah malam-malam panjang tiga tahun lalu pasca acara resepsi pernikahan Irwan.
[Assalamualaikum, Nisa sahabatku]
19.40
[Naif sekali jika mengharap kehadiranmu di acara malam ini. Aku tau kamu tidak akan hadir, bukan?]
20.20
[Kepergianmu yang seolah ditelan bumi setelah pernikahanku, maaf jika aku menduga kejadian itu saling berhubungan]
21.55
[Tentang pertemuan kita, tentang kegilaan kita lima tahun sebelum pernikahanku, tentang kebersamaan yang membahagiakan, tentang persahabatan kita dan tentang pernikahanku yang tiba-tiba terlaksana tanpa kuceritakan padamu, Nduk. Sahabat baikku, Adekku ... tiga tahun ini aku kehilanganmu]
22.18
[Cinta dan persahabatan memang begitu dekat dan nyata adanya, maaf jika aku salah. Aku tau kamu mencintaiku bukan? Puisi indah yang sering menghiasi akun facebookmu 8 tahun lalu itu untukku kan? Laki-laki rahasia yang kamu bilang padaku saat kutanya untuk siapa, bolehkah aku menduga demikian saat kamu tiba-tiba menghilang di acara resepsi pernikahanku dengan alasan menerima telpon penting kata Sakina tepat saat akan kukenalkan dirimu pada wanita yang kunikahi itu, sengaja bukan kamu menghindari perkenalan itu. Sakitmu juga sakitku, Nduk. Nisa sahabatku ...]
22.55
[Balas pesanku jika aku salah. Abaikan jika memang semua dugaanku benar dan aku akan menceritakan tentang pernikahan yang tak sesuai dengan harapanku, jika kau memintaku untuk bercerita. Mungkin, rasamu dan rasaku yang pernah terpendam tanpa terucap hingga detik ini, adalah sama. Jika sudah terbaca tanpa balasan. Berarti aku menyimpulkan sendiri jawabanmu]
23.00
Pesan dua hari lalu yang baru saja dibuka dan sukses menumpahkan air mata Ica.
Pernikahan yang tidak sesuai dengan harapan,
Mungkin, rasamu dan rasaku yang pernah terpendam tanpa terucap hingga detik ini, adalah sama.
Ah apa maksud semua ini Ya Robb, batin Ica masih berurai air mata.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel