Cerpen Remaja, Romantis - Kumohon, Anggap Kita Tak Pernah Mengenal sebelumnya

Cerpen Remaja, Romantis - Kumohon, Anggap Kita Tak Pernah Mengenal sebelumnya

Karya: Arfi Nafa

Sebuah pesan whatssapp tiba-tiba masuk di ponsel Ica. Nomernya tak tersimpan itu artinya Ica tak mengenal nomer si pengirim pesan.

Dilihatnya foto profil dari nomer tersebut, hanya ada gambar deretan personil hadroh bertuliskan "Az-Zahir" yang tidak menjelaskan siapa si pengirim pesan tersebut. Tak mungkin satu diantara personil grup hadroh terkenal itu mengirim pesan whatsapp pada Ica sebab diantara mereka tak ada yang mengenal Ica.

Pastilah, dia adalah pengagum grup hadroh itu. Namun siapa? Banyak teman Ica yang menjadi pengagum grup yang membawakan sholawat begitu memukau itu.

Kembali Ica menatap layar ponselnya, sebelum ia sempat membalas pesan tersebut terlihat ia sedang mengetik. Hatinya berbedar, bertanya dalam diam siapa gerangan yang memanggilnya lewat akun whatsapp-nya itu.

[Nduk, di read doang?]

Sebuah pesan kembali masuk membuat Ica semakin terheran siapa dia.

Nisa, Nduk? Sebuah panggilan yang tak semua orang menggunakannya. Dikalangan sekolah Ia akrab dipanggil Ica, di lingkungan rumah atau di organisasi yang ia ikuti beberapa memanggilnya Caca.

Hanya para guru dan dosen yang memanggilnya Nisa, atau Nduk jika sudah akrab dengan beliau para pengajar yang mengenalnya.

Ah ... Ica teringat satu lagi seorang yang sering memanggilnya dengan panggilan itu.

Muhammad Irwan As-Syafiq.

Laki-laki yang mencuri hatinya itulah yang sering memanggil Ica dengan panggilan Nisa atau Nduk. Ya ... status persahabatan yang entah siapa pertama kali mencetuskan untuk hubungan akrab Ica dan Irwan itu membuat teman-temannya tak pernah protes dengan panggilan Irwan pada Ica yang berbeda dari teman-teman lainnya.

Mungkinkah Irwan yang mengirim pesan untuk Ica? Untuk apa tiba-tiba ia menghubungi Ica.

Ah ... andai kau tau, Mas.
Aku begitu merindukanmu.

Batin Ica masih menatap layar ponselnya, terlihat nomer tersebut masih online sejak Ica membaca pesan yang kedua kalinya tadi.

[Iya, maaf ini siapa ya?]

Ica membalas pesan tersebut, sembari berharap bukan Irwan yang menyapanya lewat pesan singkat itu.

[Oh, nomerku dihapus ya?]

Deg, hati Ica berdebar ....
Dari gaya tulisan itu, sepertinya Ica memang mengenali si pengirim pesan tersebut.

[Maaf, hp-nya sempet rusak. Sebagian nomer nggak tersimpan di sim card.]

[Wah berarti hp baru dong, boleh tau kabarnya Choirunnisa sekarang?]

[Maaf, ini siapa ya?]

[Yang kemarin di swalayan, pas mau disapa malah kabur.]

Pesan yang dikirim dengan emotion tertawa di bagian akhir membuat Ica tersentak. Tak salah lagi, pasti dialah Irwan.

Hati Ica bergetar hebat, seketika terasa sesak di dada. Air matanya tak tebendung lagi, butiran bening itu sukses membasahi pipi Ica yang baru saja dipolesnya dengan bedak tipis usai mandi sore tadi.

[Maaf buru-buru, Mas Irwan ya?]
Balasnya sekian detik usai menghapus air matanya.

[Kirain udah lupa, Nduk.]

Ica menarik nafas panjangnya. Ya Robb, mengapa kau hadirkan ia kembali disaat hati ini masih berjuang untuk melupakannya?

Butiran-butiran bening itu semakin tak terbendung. Ia mengalir semakin deras membasahi wajah gadis itu.

Ica wanita kuat, dulu ia tak mudah meneteskan air matanya. Namun setelah ia mengenal cinta dan patah hati untuk yang pertama kali dengan waktu yang hampir bersamaan ia mudah sekali menangis.

Hatinya yang kuat kini melunak, sebab kini separuh hati yang ia miliki telah patah, bahkan sudah hancur berkeping-keping sejak keputusan Irwan menikahi seorang gadis secara mendadak dan tanpa sepengetahuan Ica sebelumnya.

Cinta dalam diam telah membawanya pada lembah kekecewaan yang begitu dalam. Tak ada yang bisa disalahkan. Irwan tak pernah tau Ica mencintainya, dan Ica tak pernah berfikir panjang tentang sebuah pernikahan seorang laki-laki yang bisa dipastikan setiap hari bertegur sapa dengannya meski hanya lewat dunia maya.

[Nisa, nggak dibales lagi nih WA-nya?]

Dering ponsel Ica membuyarkan lamunannya. Irwan kembali mengirimkan pesan sebab sedari tadi Ica membiarkan aplikasi whatsapp-nya terbuka namun tak segera membalasnya.

[Maaf , Mas. Ica lagi sibuk tadi]

[Kok kaku banget kaya baru kenal, kita masih sahabat kan?]

Ah, pesan itu. Mengapa kau bicara seperti itu, Mas?
Tak taukah posisi itu tak kuharapkan lagi sejak keputusanmu meminang wanita itu?
Tak taukah selama ini tentang perasaanku?
Tak sadarkah selama ini aku mencintaimu?

Isakan Ica semakin kencang, Syukurlah tak ada orang yang mendengarnya.

"Raqqat ‘ainaya shawqan, wa li Taibata tharafat ‘ishqan. Fa’ataytu ila habibi, fahda’ ya qalbu wa rifqan
Salli ‘ala Muhammad."

Dering sholawat favorit Ica terdengar dari ponselnya, tanda ada sebuah panggilan masuk.

Seketika Ica menoleh ponselnya, nomer tanpa nama itu memanggil.

Ica mengabaikan, air matanya tak henti menetes. Mengapa sahabatnya itu kembali hadir membuka luka lama yang sekuat tenaga ia sembuhkan selama ini.

Kepingan-kepingan hati yang sudah hancur itu mulai ia satukan kembali, meski ia harus tertatih melaluinya.

[Angkat Nduk, Mas mau bicara penting]

Ah, cobaan apalagi ini Ya Robb? Aku tau Engkau menguji hamba-MU sebab ia mampu melewatinya.

Sungguh, ini teramat berat untuk kuhadapi sendiri. Aku hancur, hatiku terluka sebab kebahagiaannya. Meski semua itu tak lepas dari takdirMU Ya Robb.

Aku percaya selalu ada hikmah dibalik sebuah musibah, namun engkau kembali menghadirkan ia saat aku mulai mengihklaskannya, saat aku telah percaya jika ia memang bukan yang terbaik untuk hamba.

[Maaf Mas, Ica sedang ada kegiatan]

Katanya berbohong, saat ini Ica sedang tidak melalukan apapun kecuali menangis. Entahlah air mata itu memang tak bisa ditahannya sedari tadi ia tau jika ia sedang berbalas pesan dengan lelaki yang ia cintai dalam diam, lelaki yang kini sudah berstatus sebagai milik orang lain.

[Oke, maaf mengganggu. Jika Ica masih menganggap Mas sebagai sahabat, Mas minta malam nanti Ica datang diacara " sholawat rutinan". Mas masih rutin hadir meski sudah menikah dan sejak saat itu pula Mas kehilangan sahabat]

Allahu Akbar, rencana apalagi ini Ya Robb? Ica tak sanggup menghadapinya sendiri, namun Ica enggan bercerita bahkan pada Sakina teman baiknya yang juga mengetahui prahara hatinya bersama Irwan.

Mengapa engkau hadir disaat aku berjuang melupakanmu, Mas?
Biarkan aku berjuang sendiri menata kembali kepingan hati yang sudah patah ini.
Kumohon, anggap saja kita tak pernah mengenal sebelumnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel