Cerpen Remaja - Mengejar Bidadari

Cerpen Remaja - Mengejar Bidadari

Karya: Rafunselia Agatha

Duduk bersila beralaskan rumput hijau di taman kampus. Bersandar pada pohon, membuka buku karya penulis ternama yang kupinjam dari perpustakaan. Membaca setiap lembar ke lembar. Namun, terhenti ketika salah satu dari panca indra mencium harum aroma tubuh wanita dengan wajah terindah.
Seakan menjadi makhluk dari seribu satu yang sempurna di dunia ini. Dia berjalan dengan mendekap buku di dada, ujung kerudung berwarna navy terayun lembut mengikuti gerap langkahnya.
"Anna!" panggilku tanpa ragu. Bangkit, dan berjalan ke arahnya.
Dia menoleh, menunggu diri ini untuk mendekat.
"Mau kemana?" lanjutku seraya mengulas senyum.
"Mau ke kelas, Kak."
Ah, suara merdu itu membuatku merasa indahnya dunia ini.
"Aku antar, ya?"
"Gak usah, Kak!" ketusnya.
Ketus? What the?
Aku Fathian Zidan Alfarezi. Teman-temanku lebih sering memanggil Zidan, sedang wanita yang terkagum-kagum pada ketampananku, memilih memanggilku Abang Thian.
Heleeh ....
Untunglah aku cukup punya hati. Tak tega harus membuat anak orang menangis. Namun, lain dengan gadis ini. Gadis yang selalu menghentikan kenakalanku setiap kali aku bertemu dengannya. Mendadak jiwa malaikatku datang setiap ada di dekatnya. Ya, seperti saat ini.
Menawarkan diri untuk mengantarnya, takut jika dia salah kelas. Membantunya membawa buku yang lumayan berat, sampai memilih pijakkan kaki agar tidak terpeleset. Maklum, sayangku pada Anna begitu luar biasa.
"An, kenapa gak ambil jurusan kedokteran?" tanyaku seiring kaki ini melangkah.
"Emang kenapa?"
"Ya, biar nanti kalau aku sakit 'kan, disuntiknya sama kamu."
Anna bergidig. Sejijik itu 'kah dia?
"An, awas!" Seketika gadis di sampingku menghentikan langkahnya, menautkan alis, tangannya merapat di dada. Kaget.
"Ada apa?" tanya Anna.
"Awas jangan terlalu benci, nanti jatuh cinta."
Netra beriris coklat itu mendelik, mendengkus kesal. Kubalas dengan kedipan mata, seketika dia mengalihkan pandangannya. Tak lama, karena dia harus melihatku lagi untuk merampas kembali buku yang kubawakan, bibirnya bersungut sebal, dengan kesal dia melanjutkan langkah tanpa menungguku.
Wanita, mudah sekali marah. Sayang dia begitu cantik untukku benci.
---
Hari yang berbeda, menunggu si gadis beraroma kasturi di depan gerbang. Tak butuh waktu lama, dia datang dengan seulas senyum yang memabukkan.
Dia melihatku. Seketika senyumnya sirna. Namun, itu cukup membuatku jatuh cinta lagi dan lagi. Gadis jutek beralis tebal mendekat. Menjadi kesempatan untukku mengganggunya.
"Hay!" sapaku.
Anna mendengkus kesal, mungkin karena tangan yang sengaja aku rentangkan untuk menghadangnya masuk.
"Kak Thian!"
"Cie ... panggil 'Thian'. Tau gak? 'Thian' itu panggilan sayang dari cewek yang suka sama aku. Mulai suka, ya?" godaku melipat tangan di depan dada.
Dia mencebik lalu mengambil langkah ke arah kanan. Namun, sayang aku lebih cepat melangkah ke arah yang sama.
"Ayolah, Kak Thian! Anna mau masuk kampus." Anna merengek, bibir ranum itu mengerucut. Lagi, tingkahnya membuat rasa sayang ini tumbuh lebih besar.
"Jawab iya untuk jadi pacarku, baru boleh masuk."
Netra bermanik permata itu membulat. Kubalas dengan kedipan mata. Lalu dia memukulku dengan buku yang dia bawa. Bertubi-tubi, sakit, tapi romantis.
"Ampun, Sayang." Bukannya menghentikan aksinya dia malah semakin brutal, dan mengakhiri dengan menginjak kakiku.
Bisa dibayangkan rasanya diinjak kuat dipenuhi amarah oleh kaki yang tertutup sepatu jenis sneaker, dan itu sangat sakit.
"Aww ...!" Mengangkat kaki yang di injaknya. Menyebalkan.
"Anna!" panggilku, dia hanya menoleh sekedar memperlihatkan lidah yang sengaja ia julurkan untuk mengejekku.
Shitt ...!
Entah, rasa ini begitu menggebu. Di mana hati yang biasa di kejar kini berbalik harus mengejar.
Kenapa saat aku jatuh cinta harus pada wanita yang enggan aku dekati. Anna Alfatunniza jangan panggil aku Thian jika aku tak bisa mendapatkanmu.
--
Mencari tahu tentang dirinya, dari film, lagu, makanan, hingga type pria yang ia suka.
"What, Gus? Gus itu siapa?"
Niar menepuk keningnya sendiri lalu bergeleng kepalanya. Ayolah, aku baru mendengar kata itu. Siapa si Gus itu? bagaimana rupanya? Apa ketampanannya melebihiku?
"Biasanya Gus digunakan untuk panggilan anak laki-laki seorang kiyai," terang Niar.
"Berat sekali, nyokap gue 'kan pengusaha, hapal hurup hijaiyah saja, sudah alhamdulillah." Semangatku untuk mendapatkan Anna meredup seketika.
Jika disandingkan denganku, memang gadis itu terlalu sempurna. Apalah aku ini, hanya oncom tutug. Udah bulukan di tumbuk pula. Mengacak rambut, frustasi mulai menghampiri. Namun, tergugah oleh bisikan Niar di tepi telinga.
"Lupakan Gus, yang penting Anna suka pemuda soleh."
"Siapa lagi si Soleh?"
Sontak Niar menoyor kepalaku. Lalu kami tertawa, karena dia tahu itu hanya sebagian dari candaanku saja.
"Ajarin gue ngaji, yuk!" pintaku pada teman perempuan yang selalu ada setiap kali aku butuhkan. Kalau gak butuh, ya ... tetep ada, sih.
---
Siang itu di hari Jum'at. Sengaja penampilan kurubah sedemikian rupa, dari yang biasanya ke kampus mengenakan kaus oblong berangkap jaket berbahan jeans. Kini kemeja koko menjadi pilihan pashionku. Agar terlihat lebih tampan dan soleh.
Kembali menunggu si pematik rindu di depan gerbang. Tak sabar melihat ekspresi wajahnya saat dia melihatku. Ah, terbayang sudah wajah imut itu tersenyum lalu berhambur memelukku. 'Aa Thian ....'
Tidiiit ...!
Sialan! Kelakson Niar membuyarkan lamunanku akan Anna.
"Kesambet jin gerbang, nih." Niar menerobos masuk membawa motornya ke parkiran sembari terbahak.
Lupakan tentang Niar, karena kini Anna baru turun dari angkutan kota, kaki beralas sepatu jenis sneaker, memijakkan ke bumi, dan inilah saatnya, dia melihatku, bola mata itu melebar, tertahan beberapa detik di sana. Ayolah Sayang, mendekat.
Tarikan napas begitu dalam terlihat di sana, lalu ia mulai melangkah, ke arahku. Mungkin lebih tepat ke arah gerbang.
"Hay!" sapaku.
"Waalaikum salam."
"Maaf, assalamu'alaikum ...." kembali mengulang sapaanku.
"An, pake farpum apa?" lanjutku.
"Enggak, hari ini aku gak pake farpum."
"Tapi kok, wangi, ya?"
Anna mulai sibuk mengendus badannya sendiri. Lalu memukulku dengan buku. "Jahil, aku gak pakai farpum, lagian cewek tuh, dilarang memakai wewangian."
"Oh, berarti, itu wangi bidadari surga."
"Gombal!"
Pipi gadis itu memerah seperti tomat. Mengulum senyum. Namun, tak lama berubah menatap heran padaku.
"Kak Thian, hari ini tampak beda, ada apa?"
"Hari jum'at, An. Cowok tampan wajib salat jum'at. Biar tampannya berfaedah."
Anna hanya mencebik, pupilnya berputar jengah, tapi aku yakin di dalam hatinya suka.
"An, aku anter, ya?"
Anna mengangguk, tumben? Akhirnya ada sedikit kemajuan, mengiyakan dengan waktu cepat.
---
Pulang kuliah, sengaja aku menunggu Anna di dekat gerbang dengan duduk di atas kuda besi beroda dua.
"Anna!" panggilku seraya melambaikan tangan ke arahnya.
Dia tersenyum. Namun, terlihat malu-malu. Bangkit, kuhampiri dia yang menghentikan langkah sengaja menungguku.
"Ada apa?"
"Aku antar pulang."
"Gak usah, Aku bisa naik angkot."
"Kenapa?"
"Seorang perempuan tidak boleh duduk berdekatan dengan seorang lelaki yang bukan mahromnya."
Aku menanggapi penjelasan Anna dengan membulatkan bibir menyerupai hurup O saja.
Hening ....
"Mmm ... terus bagaimana agar bisa jadi mahrom?" tanyaku.
"Ya, menikah."
"Ayok!"
"Kak Thian!" pekik Anna memukulku dengan buku, pelan. Tanda kalau dia mulai tak tega menyakitiku, signal mulai suka.
"Lah? Tadi kamu ngajak aku nikah, kan?"
"Itu jawaban dari pertanyaan Kakak!"
"Yaudah, ayok kita halalin."
Mendengkus kesal, bola mata kembali berputar dan berakhir menatap nyalang padaku.
"Kalau berani, temui abiku saja," ucapnya berlalu, dan menghilang ketika angkutan kota membawa tubuh gadis itu pulang.
"Temui abi? Lampu hijau, Nih. Tapi ...."
Aku mengedarkan pandangan mencari sosok malaikat penolong. Niar.
"Niar!" panggilku saat melihat wanita berambut sebahu di sisi parkiran.
Dia menoleh lalu bergegas menyalakan mesin motor.
"Niar! Bantu aku, pria seperti apa yang abi Anna inginkan?"
Niar mendengkus kesal, lalu berkata, "Semua orang tua pasti menginginkan suami dari anaknya itu seorang yang soleh, dari hati dan perilaku. Bukan hanya penampilannya saja."
Otakku mencerna apa yang dikatakan temanku ini, rupanya dia sedikit menyindir.
"Lalu?"
"Mulai dari perbaiki salatmu," ucap Niar berlalu meninggalkanku yang masih terpaku di tempat.
Tak ada salahnya merubah diri dari pribadi sebelumnya agar bisa lebih layak saat kita ingin mendapatkan mutiara terindah di bumi ini, Bukan?
End

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel