Cerpen Remaja - Dibalik Remaja Aka Bidadari Syurgaku2

Cerpen Remaja - Dibalik Remaja Aka Bidadari Syurgaku2

Karya: Surya Alendah

Cast : Varun Kapoor aka Harun
: Helly Shah aka Aishah
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikiran orang tua jaman dulu mereka begitu kolot, di tahun 2019 ini masih saja berniat untuk menjodohkan anaknya,
aku benar-benar keberatan saat Bapak dan ibu ku bilang kalau aku akan dijodohkan dengan anak dari teman baiknya itu...
Yang bernama Aishah
Aku benar-benar pusing dan prustasi saat Bapak memaksaku untuk bertemu dengan gadis itu, tapi aku menolak dengan berbagai alsan yang ku punya tapi hari itu saat aku hendak bersiap-siap untuk pergi.
"leh kamu mau kemana? " tanya bapak saat melihat ku hendak mengeluarkan sepeda motorku itu
"pergi pak, Harun ada janji sama temen-temen mereka udah nunggu Harun"jawabku sambil memasang Helm
" kamu anterin bapak dan ibu aja pergi kerumah temen bapak" ucap Bapak
"tapi pak, bapakkan bisa bawa mobil sendiri kenapa harus ngajak Harun segala sih " ucapku merasa keberatan
"jangan ngebantah orang tua nggak baik" ucap Ibuku kemudian yang sudah terlihat rapih tidak seperti biasanya
"tapikan bu Harun udah ditunggui sama temen-temen" elakku kemudian
"tapi bapakmu itu tangannya lagi sakit jadi gak bisa nyetir dulu, udah cepet anterin bapak dan ibu, nanti keburu hujan" lanjut ibu sambil masuk kedalam mobil dan duduk dikursi belakang yang disusul oleh bapak yang duduk di jok depan,
karna tidak mau dianggap anak yang tidak berbakti akhirnya aku pun segera mengantarkan Bapak dan ibu kerumah temannya itu, kurang lebih 1 setengah jam perjalanan akhirnya kami sampai ketempat tujuan , awalnya aku tidak menaruh curiga sedikitpun saat bapak dan ibu memaksaku untuk mengantarkan mereka, namun ternyata aku sudah dibodohi oleh bapak dan Ibu rupanya tangan bapak tidak apa-apa, itu hanya alsan saja agar aku mau ikut dengan mereka kerumah wanita yang akan mereka jodohkan padaku,
Rasanya aku ingin marah-marah dan pergi dari sana saat mendengar percakapan Bapakku dengan Bapak gadis itu.
"Ahlan wa sahlan Akhi " ucap sang pemilik rumah saat kami tiba dirumahnya itu yang menyambut hangat kedatangan kami kerumahnya
"Assalamu'alaikum" ucap Bapak dan ibu yang disusul ucapan salam dariku
Wa'alaikumsallam" jawabnya yang segera memeluk bapak dengan perasaan bahagia yang terpancar diantara keduanya.
Kemudian beliau pun mempersilahkan kami masuk dan duduk diruang tamunya itu,
"Aishah nak cepat bawakan minuman untuk tamu kita" ucapnya setengah berteriak memanggil seorang bernama Aishah
"Aishah" gumamku saat mendengar nama gadis yang tidak asing ditelingaku,nama yang sering bapak dan ibu ucapkan padaku setiap waktu yang tak lain gadis yang ingin mereka jodohkan denganku
"sial!!! ternyata bapak dan ibu sudah menjebakku mereka membohongiku, bilangnya tangan bapak sakit dan tidak bisa menyetir ternyata itu cuma akal-akalan mereka saja agar aku mau datang untuk menemui gadis itu, aku benar-benar kesal sekali rasanya aku ingin pergi saja dari tempat itu namun ibu melotot padaku dan menyuruhku untuk tetap duduk seperti bisa membaca pikiranku saja, mau tidak mau akhirnya aku pun menurut sambil mendengar percakapan antara bapak dan temannya itu mengenai perjodohan kami, sungguh menyebalkan tapi aku tidak bisa berkutik dan tak lama seorang gadis bercadar pun keluar dari arah dapur sambil membawakan sebuah nampan yang berisi minuman dan kue diatasnya yang segera dia sugguhkan pada kami,
"apa ini gadis yang ingin bapak jodohkan denganku?" batinku saat melihat sosok wanita berhijab lengkap dengan cadar yang ia kenakan yang hanya memperlihatkan sepasang matanya saja, saat itu aku berfikir,
" pasti orangnya jelek itu sebabnya dia menutupi wajahnya itu" ucapku yang so tau ini . tapi entah kenapa saat mataku dan matanya bertemu tiba-tiba saja ada getaran yang hebat yang merasuk kedalam dadaku...
"mata yang sangat indah" gumamku yang membuat bapak , ibu dan ayah gadis itu menoleh padaku saat mendengar ucapanku itu dan membuat para orang tua mengejekku habis-habisan
"wah kayanya anakku ini udah muali suka dengan putrimu mas" ucap Bapakku yang membuatku menjadi salah tingkah
"wah itu bagus, cinta itu kan berawal dari mata terus turun kehati" sambung ayah gadis itu yang kini membuat gadis itu menunduk malu mendengar ucapan ayahnya itu.
Kemudian obrolan pun berlanjut hingga tiba saatnya aku dan Aishah ditanya apa kah kami bersedia menerima perjodohan ini,
"gimana nak Harun apa nak harus bersedia bapak jodohkan dengan putri bapak ini" tanaya ayah gadis itu padaku.
"jika dik Aishah tidak keberatan dengan perjodohan ini maka tidak ada alasan pula untuk saya menolaknya" ucapku yang dengan cepat mengubah keputusanku yang awalnya aku tidak mau untuk dijodohkan itu, entah apa yang membuatku berkata demikian seprti ada sebuah dorongan yang mengharuskanku menerima perjodohan ini.
"lalu bagai mana denganmu cah ayu apa kamu menerima perjodohan ini" tanya ibuku yang kini bergantian menayakan kesediaannya.
"bissmillah, Insya Allah Asihah bersedia" ucapnya dengan suara lembut dan sangat indah didengar
"Allhamdulilah " ucap kami bersamaan kemudian orang tuaku dan orang tuanya itu pun segera mencari hari baik untuk pernikahan ku dan Aishah aku sungguh bahagia saat mereka menetapkan hari pernikahanku rasanya aku sudah tidak sabar lagi ingin menjdikan Aishah sebagai pendampingku, mungkin karna rasa penasaran yang ingin sekali segera melihat wajah dibalik cadarnya itu, yang sudah membuatku penasaran dan tergila-gila olehnya.
****
Hari-hari pun silih berganti tanpa terasa hari H itupun tiba aku begitu bahagia akhirnya aku sudah sah menjadi suami dari gadis bercadar itu.
"dik Aishah, apa mas Harun sudah boleh melihat wajah dibalik cadar ini" tanyaku yang minta ijinnya saat berada dikamar pengantin kami..
"i..iya mas" ucapnya sambil tertunduk malu saat aku menatap matanya dengan intens, kemudian aku pun segera menyentuh dagunya mengakat wajahnya yang tertunduk itu agar menatapku kembali sungguh aku begitu sangat senang saat melihat kedua bola matanya yang indah itu, dan perlan aku pun mencoba membuka kain yang menutupi sebagian wajahnya itu dan Subhanallah aku begitu terpesona sesaat setelah melihat wajah dibalik cadar itu untuk pertama kalinya aku seperti melihat sesosok bidadari Syurga yang begitu cantik dan berseri, sungguh aku akan merasa rugi jika aku tetap menolak perjodohan itu dengannya dulu, bukan karna kecantikannya tapi karna dia adalah wanita yang sholehah pintar dan sangat lembut dia begitu sempurna dimataku aku sangat bersyukur karna Allah sudah memberiku Bidadari Syurga ini untuk ku miliki..
"Mas Harun udah dong jangan liatin Aishah terus,Aishahkan jadi malu " ucap Aishah polos yang membuatku tersenyum simpul mendengar ucapanya itu
"malu!! Kenapa harus malu lagian mas kan udah sah jadi suamimu jadi biarin mas memandang wajah cantikmu ini" ucapku yang kembali menatap wajah cantik istriku setelah puas memandangnya aku pun kembali meminta ijinnya
"Dik.. Apa mas boleh... "ucapku terhenti saat melihat anggukan kepala Aishah yang seolah mengerti maksudku itu, dengan perlahan aku pun mendekatkan wajahku padanya aku megecup keningnya cukup lama membuat Aishah memejamkan kedua matanya seolah menikmati kecupan hangat dariku setelah itu kecupanku pun pindah ke kedua matanya,kemudian kehidung mancungnya dan turun kebibir yang berwarna merah muda itu aku mengecupnya dengan lembut dan melumatnya secara perlahan yang semakin lama menjadi ciuman panas Aishah sampai kewalahan menerima cumbuanku itu tapi aku sangat senang karna dia tidak berkomentar apapun dia meneriman seriap ciuman dariku hingga membuat hasrat kami berdua memburu yang aku lanjutkan dengan membuka sleting gamis Aishan yang berada dibelakang punggungnya itu secara perlahan aku membukanya membuat Aishah segera memeluk ku saat setengah tubuhnya terbuka karna ulahku, aku pun segera membaringkan tubuhnya keatas tempat tidur,kini tubuh kami berdua sudah benar-benar polos aku segera mematikan lampu kamar dan penyatuan antara kamipun terjadi yang aku harap akan menjadi benih cinta yang kelak hadir ditengah-tengah kami melengkapi bahtera rumah tangga aku dan Aishah.
Selesaiii...!!!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel