Cerpen Islami, Sedih - Tahajjud Terakhir (Riky Prayuda)

Cerpen Sedih - Tahajjud Terakhir (Riky Prayuda)

Seperti biasanya jam 03.30 dini hari terdengar suara telepon genggam ku berbunyi ada panggilan masuk. Panggilan itu ternyata dari Rudy teman satu group di whatsapp, yang merupakan group sebuah komunitas tahajjud berantai yang lebih sering disebut dengan KUTUB. Rudy menjadi PJ malam ini untuk membangunkan teman-teman satu group.

Langsung ku matikan dan memberi laporan ke group bertanda sudah bangun. Aku langsung ke kamar mandi untuk mengambil wudu’ dan melaksanakan shalat tahajjud di tambah dengan shalat witir. Selesai shalat aku memberi laporan kembali ke group bertanda sudah selesai melaksanakan shalat tahajjud. Ku lihat jam di telepon genggam ku masih pukul 04.08. Aku manfaatkan buat menelepon teman-teman yang belum bangun.

Sudah hampir satu tahun aku bergabung di KUTUB, berawal dari KUTUB lah yang dulunya aku sulit bangun untuk shalat tahajjud kini menjadi agak ringan karena ada teman yang membangunkan lewat telepon. Selain itu dengan berjamaah seperti itu menambah motifasi ketika melihat yang lain tidak pernah lewat shalat tahajjudnya sehingga aku pun merasa malu kalau laporan di group tidak melaksanakan shalat tahajjud.

Pagi ini aku ke kampus untuk mengambil ijazah untuk persyaratan melamar pekerjaan. Aku baru 3 bulan yang lalu menyelesaikan studi S1. Walaupun sudah selesai hampir setiap hari aku datang ke kampus.
“Fariz”, ku lihat seseorang dari kejauhan memanggil nama ku.
Aku pun mendekatinya yang ternyata Ilham teman satu angkatan.
“Assalamulaikum” sapa ku kepada Ilham.
“Waalaikumsalam” jawab Ilham.
“Riz ini aku mendapatkan informasi dari anak-anak di mushala tentang beasiswa S2 di Mesir” ucap Ilham.

“Coba aja, kali aja rezeki kamu” lanjut Ilham.
“Sayang aku belum selesai” sambung Ilham lagi.
“Mana?” tanya ku ingin melihat langsung informasi yang disebut oleh Ilham.
“Ini” sambil menyodorkan gulungan kertas kepada ku.
“Kok kamu bisa dapat kertas ini?” tanya ku penasaran.

Ilham tertawa kecil mendengar pertanyaan ku “itu aku dapat dari papan pengumuman mushala”.
“Tadi aku ambil lalu aku foto copy buat kamu” jelas Ilham sambil nyengir.
“Yuk kita ke perpustakaan” ajak ku kepada Ilham.

Aku langsung mengajak Ilham ke perpustakaan untuk melakukan pendaftaran via online ke alamat web yang ada di informasi. Setelah mendaftar secara online tahapan selanjutnya adalah mengirimkan berkas-berkas administrasi.

Aku sedikit kaget karena setelah mengirimkan berkas tidak ada tahapan selanjutnya seperti tes atau interview. Jika berkas sudah dikirimkan maka tinggal menunggu pengumuman kelulusan yang akan ditelepon langsung oleh penyelenggara, yaitu kedutaan besar Indonesia yang berada di Mesir.
Keesokannya aku langsung mengirimkan berkas-berkas administrasi. Besar harapan bisa keterima. Setiap malam aku semakin meningkatkan shalat tahajjud dan tidak henti-hentinya berdoa agar mendapatkan beasiswa S2 di Mesir.

Sudah hampir satu bulan menunggu, namun aku tidak kunjung dihubungi oleh pihak yang menyelenggara beasiswa tersebut. Aku mulai pesimis, dalam hati ku “mungkin aku tidak diterima sehingga tidak dihubungi”.

Hari ini aku kembali pergi ke kampus untuk sekedar mencari informasi lowongan pekerjaan. Biasanya di papan pengumuman selalu ada pinformasi lowongan pekerjaan.
“Assalamualaikum” terdengar suara salam sambil menepuk bahu ku.
Aku pun kaget dan ku lihat ternya Ilham, “Waalaikumsalam, kamu Ham hampir aja jantung ku copot”.

Ilham hanya tertawa. “Bagaimana beasiswanya?”
“Belum ada di hubungi, padahal sudah 1 bulan. Aku sudah tidak berharap lagi Ham”.
“Ya sabar aja, rezeki bakalan gak kemana” sahut Ilham.
“Kasih tau aku ya kalau ada info loker” ujar ku.
“Oke, aku ke ruangan jurusan dulu ya, assalamualaikum” ucap Ilham sambil berlari pergi.
“Waalaikumsalam” jawab ku pelan.

Karena sudah merasa tidak keterima aku mencoba mencari pekerjaan, hampir 30 surat lamaran yang aku masukkan, sampai saat ini satu pun tidak ada yang memanggil. Dengan kondisi seperti ini membuat semangat ku menurun termasuk dalam beribadah. Sudah satu minggu aku tidak shalat tahajjud. Hal ini membuat admin di group KUTUB ku menelpon untuk menanyakan kabar ku.
Via Telepon:
“Assalamulaikum akh”
“Waalaikumsalam” jawab ku dengan perasaan tidak enak.
“Apa kabar? semoga baik-baik saja”.
“Bagaimana akh tahajjudnya?
“Kenapa tidak ada laporan di group?” tanya kang Izham admin group KUTUB ku.

“Kabar saya Alhamdulillah baik kang”.
“Untuk tahajjud maaf kang, saya sedang dalam kondisi tidak semangat”.
Aku menceritakan kepada kang Izham tentang kondisi yang sedang aku hadapi sehingga membuat tidak semangat untuk shalat tahajjud.
Mendengar semua yang aku sampaikan, kang Izham memberikan nasehat.
“Akhi tidak pantas ketika sedang dalam kondisi terpuruk sekali pun lantas kita menjauh darinya. Apakah kita shalat tahajjud hanya sebagai ungkapan syukur atas  hanya apa yang kita minta  terwujud?”.
“Kalau hanya shalat tahajjud kita hanya sebatas untuk itu, lalu nikmat mata yang bisa melihat, nikmat mulut yang bisa bicara, nikmat kaki yang bisa berjalan, dan terpenting nikmat sehingga kita masih bisa bernafas”.
“Dengan apakah antum bersyukur atas nikmat itu dan masih banyak nikmat yang lainnya?”
“Kalau antum menjawab shalat 5 waktu, maka ana jawab itu kewajiban bukan sebagai ungkapan rasa syukur”.
Aku hanya mendengarkan nasehat dari kang Izham tanpa berkomentar sedikit pun. Tanpa sadar air mata ku jatuh. Aku beristighfar tiada hentinya.
Lalu kang Izham melanjutkan lagi nasehatnya “Ingat akhi, Allah lebih tahu yang antum butuhkan. Bisa jadi Allah belum memberikan antum pekerjaan karena Allah ingin memberikan sesuatu yang lebih dari pada pekerjaan yang antum inginkan”.
“Maaf ya jika da kata ana yang salah” ujar kang Izham.
“Ana mau lanjut kerja dulu, assalamualaikum”
“Terimaksih kang nasehatnya, waalaikumsalam”.

Air mataku masih mengalir, karena mengingat apa yang sudah disampaikan oleh kang Izham.
“Aku harus meluruskan niat kenapa aku shalat tahajjud” kata ku di dalam hati.

Jam dinding di kamar sudah menunjukkan pukul 21.00, aku hendak langsung tidur dan sengaja tidur lebih cepat agar dengan mudah bisa bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajjud. Aku mengatur jam alarm pukul 02.30. Setelah itu aku langsung ke kamar mandi untuk mengambil wudu’ dan segera tidur.

Tepat jam 02.30 alarm berbunyi, aku bergegas bangun dan menuju ke kamar mandi mengambil wudu’ lalu langsung melaksanakan shalat tahajjud. Malam ini aku merasa sangat khusu’. Aku menghayati disetiap bacaan shalat ku sambil sesekali teringat betapa lemahnya iman ku. Tanpa terasa air mata jatuh ke sajadah. sekitar 1 jam aku melaksanakan shalat tahajjud. Setelah selesai aku langsung membaca Al-Quran.

Sebelum membaca Al-Quran aku teringat untuk melapor di group kalau aku sudah selesai shalat tahajjud.

Dipertengahan sedang membaca Al-Quran, telepon genggam ku berbunyi. Aku langsung berpikir bahwa ini telepon dari PJ group KUTUB.
“Bukannya saya sudah lapor” ucap ku sebelum mengangkat telepon itu.
Karena yang menelepon juga nomor baru, aku pun mengangkat telepon itu tanpa langsung mematikan seperti biasanya.
Via Telepon:

“Assalamulaikum” ucap ku.
“Waalaikumsalam” jawab orang yang menelepon.
“Ini dengan saudara Fariz?” tanya orang itu.

“Saya dari KBRI di Mesir, berdasarkan data anda mendaftar beasiswa S2. Apakah betul?”
“Oh iya” jawab ku cepat dan seketika merasa semangat dan sedikit penasaran.

“Maaf sebelumnya kami menelepon jam segini, kami memang sengaja menghubungi jam segini, karena kriteri penerima beasiswa adalah orang-orang yang senantiasa bangun tengah malam untuk shalat” jelas orang tersebut.

“Sebelumnya apakah saudara saat ini bangun untuk shalat?” tanya orang tersebut.
“Iya benar pak, saya bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud” jawab ku dengan perasaan senang.
“Maka dari itulah kenapa kami menghubungi jam segini, karena kami mencari orang-orang yang melaksanakan shalat tahajjud yang dinyatakan diterima dalam beasiswa ini”.

“Selamat saudara dinyatakan diterima, besok akan kami hubungi lagi untuk penjelasan selengkapnya.
“Ini saja, Assalamualaikum” orang tersebut mengakhiri pembicaraan.
“Waalaikumsalam” aku langsung sujud syukur.

“Ya Allah ini hikmah dari hamba malam ini bangun melaksanakan shalat tahajjud” dengan bercucuran air mata kebahagiaan sekaligus merasa menyesal sudah berprasangka buruk sehingga sekitar satu minggu tidak melaksanakan shalat tahajjud.

“Aku langsung menelepon kang Izham menceritakan barusan yang terjadi. Aku berterima kasih kepadanya, karena nasehatnya aku tersadar untuk melaksanakan shalat tahajjud lagi.

4 tahun sudah aku berada di Mesir. Sekarang aku sudah berada di Indonesia lagi dengan membawa gelar S2 di bidang Hadist. Hari ini aku diminta untuk mengisi sebuah pengajian di salah satu Masjid di Bogor.

Jamaah pengajian yang hadir sangat banyak. Ini pertama kalinya aku menjadi pemateri dalam sebuah pengajian. Aku menyampaikan tema pengajian yang bertema “Dahsyatnya Shalat Tahajjud”. Sebelum aku masuk kepada materi, aku menceritakan hikmah shalat tahajjud yang aku rasakan sendiri segingga mengantarkan ku S2 ke Mesir.

Sekitar 2 jam, selesai sudah pengajian pada hari ini. Aku langsung menuju tempat parkiran untuk mengambil motor, hendak pulang.
“Fariz” panggil seseorang dari belakang.
Aku langsung membalikkan badan “Ilham, masyaa Allah kamu ikut juga pengajian tadi?”
“Iya, mantap kamu sekarang sudah menjadi ustadz”. ujar Ilham.
“Apa benar dengan tahajjud semua masalah kita kan terselesaikan?” tanya Ilham melanjutkan dari materi yang aku sampaikan tadi.

“Apakah dengan tahajjud juga bisa menyembuhkan penyakit?” tanya Ilham lagi.
“Kita duduk saja dulu yuk d situ” sambil menunjuk arah kursi yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.
Kami berdua pun menuju kursi tersebut  dan duduk di situ.
“Kamu sedang sakit?” tanya ku kepada Ilham.

“Iya, aku sudah 1 tahun mengalami sakit dibagian kepala ku” jawab Ilham.
“Dalam satu hari aku merasakan lebih dari 3 kali sakit dibagian kepala ku. Itu rasanya sakit sekali Riz. Aku sudah tidak kuat” jelas Ilham lagi.

Ilham menceritakan penyakitnya secara detail yang sudah 1 tahun ia rasakan.
“Bangun malamlah lalu laksanakan shalat, hanya Allah lah yang bisa membantu kamu” saran ku kepada Ilham.

“Aku tidak pernah bangun tengah malam untuk shalat tahajjud” jawab Ilham.
“Aku rasa sulit bagi ku untuk bisa bangun”.
“Maukah malam ini kamu menginap di tempat tinggal ku”.
“Aku minta kamu untuk membangunkan aku nanti malam” pinta Ilham kepada ku.
“Baiklah” jawab ku tanpa birpikir panjang.

Setelah selesai kami langsung memutuskan untuk menuju ke tempat tinggal Ilham, terlebih dahulu kami singgah di tempat tinggal ku untuk mengambil pakaian ganti.
Saat diperjalanan Ilham tiba-tiba mengajak ku berhenti.
“Kenapa berhenti Ham?” tanya ku heran.

“Kita santai-santai dulu aja di sini, sudah lama kan kita tidak bertemu” jelas Ilham.
“Barangkali nanti kita tidak bisa bertemu lagi. Kamu kan sudah jadi ustadz pasti sibuk” lanjut Ilham yg membuat ku hanya bisa tersenyum.

Siang itu kami manfaatkan buat ngobrol-ngobrol sambil makan bakso di taman. Selesai makan kami jalan-jalan mengelilingi taman, momen ini kami abadikan dengan berfoto menggunakan telepon genggam milik Ilham. Hari ini menjadi hari nostalgia buat kami berdua. Wajah sedih Ilham yang tadi kini berubah dengan senyum dan tawa, karena sesekali kami bercanda dan mencoba mengingat masa-masa waktu kuliah.

Hari mulai gelap, kami pun memutuskan untuk segera menuju tempat tinggal Ilham. Selesai shalat Isya kami ngobrol sebentar. Ku lihat jam menunjukkan jam 20.00, aku mengajak Ilham untuk segera tidur.

Malam itu ku lihat Ilham belum bisa tidur karena sakit kepala yang dialaminya. Aku hanya berdoa di dalam hati agar Allah memberikan kesembuhan kepada Ilham. Sesekali ku dengar suara tangisan Ilham merintih kesakitan. Sekitar 1 jam Ilham pun terlelap tidur, sedangkan aku tetap terjaga memikirkan sakit apa sebenarnya yang dialami Ilham. Jam menunjukkan jam 03.00, aku langsung segera membangunkan Ilham.

“Ham” aku mencoba membangunkan Ilham sambil menggerakkan tubuhnya.
“Iya Riz” sahut Ilham dengan kondisi masih mengantuk.
“Bangun ambil wudu’ lalu langsung shalat tahajjud”.
“Kamu sendiri sudah shalat?” tanya Ilham kepada ku.
“Aku sudah jam 02.00 tadi”.

Ilham langsung segera mengambil wudu’ dan melaksanakan shalat tahajjud. Ku lihat Ilham sangat kusyu’ dan ku lihat air mata nya mengalir jatuh.

Selesai shalat Ilham berdo’a, ku dengar suara Ilham dengan jelas saat berdo’a.
“….. ya Allah hamba tidak akan mengeluarkan kata meminta kesembuhan kepada mu, hamba hanya ingin engkau berikan apa yang menurut Mu terbaik bagi hamba atas penyakit yang hamba derita ini. Hamba sudah tidak kuat ya Allah. Hamba mohon ampun selama ini hamba tidak pernah bangun di tengah malam untuk mengadu kepada Mu…..”

Mendengar itu aku ikut menangis dan berdoa mengaamiinkan apa yang Ilham panjatkan dalam do’anya. Lama sekali Ilham berdo’a

Setelah selesai berdo’a Ilham melakukan sujud. Tidak lama Ilham menjatuhkan tubuhnya di atas sajadah “mungkin ia ngantuk” pikir ku dalam hati.

Tidak lama kemudia terdengar suara adzan Subuh, aku langsung berdiri dari tempat tidur dan hendak membangunkan Ilham yang terlelap tidur selesai melaksanakan shalat tahajjud.

“Ku gerakkan tubuhnya sambil memanggil namanya “ham Ilham bangun kita shalat subuh”
Namun tidak ada respon dari Ilham, saat ku periksa ternyata Ilham sudah tidak bernafas, badannya sudah dingin. Seketika air mata ku jatuh “Ya Allah mungkin ini jawaban Mu atas doa yang ia panjatkan tadi, kau berikan yang terbaik baginya dengan mengakhiri rasa sakit yang ia alami. Masukkanlah ia ke syurga Mu, ampuni dosanya”
“Innalillahi wainnaillahiraji’un…

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel